Tuesday, 6 November 2012

Fungsi karya ilmiah

Secara mendasar fungsi karya ilmiah adalah sebagai sarana komunikasi akademik
dalam sebuah bidang kajian keilmuan.
 Di samping itu terdapat fungsi dan manfaat yang  bersifat pragmatis bagi guru yang menulis karya ilmiah. Hal ini berkait dengan karir dan kepangkatan guru sebagai tenaga profesional. Menurut Soehardjono (2006) prestas i kerja guru tersebut, sesuai dengan tupoksinya, berada dalam bidang kegiatannya: (1) pendidikan,
(2) proses pembelajaran, (3) pengembangan profesi dan (4) penunjang proses pembelajaran.
Keputusan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara nomor 84/1993 tentang Jabatan
Fungsional Guru dan  Angka Kreditnya, serta Keputusan bersama Menteri Pendidikan dan
kebudayaan dan Kepala BAKN Nomor 0433/P/1993, nomor 25 tahun 1993 tentang Petunjuk  Pelaksanaan Jabatan Fungsional Guru dan Angka Kreditnya, pada prinsipnya bertujuan untuk
membina karier kepangkatan dan profesionalisme guru. Kebijakan itu di antaranya
mewajibkan guru untuk melakukan keempat kegiatan yang menjadi bidang tugasnya, dan
hanya bagi mereka yang berhasil melakukan kegiatan dengan baik diberikan angka kredit.
Selanjutnya angka kredit  itu dipakai sebagai salah satu persyaratan peningkatan karir.
Penggunaan angka kredit sebagai salah satu persyaratan seleksi peningkatan karir, bertujuan
memberikan penghargaan secara lebih adil dan lebih professional terhadap kenaikan pangkat
yang merupakan pengakuan profesi, serta kemudian memberikan peningkatan
kesejahteraannya.

Fungsi utama karya ilmiah sebagaimana dipaparkan di atas adalah fungsi akademik.
Melalui karya ilmiah terjalin komunikasi akademik antarberbagai komponen dalam sebuah
bidang keilmuan. Seorang guru akan mengetahui model-model terbaru dalam pembelajaran
bahasa apabila membaca jurnal ilmiah atau tulisan dari berbagai sumber. Demikian pula
apabila menuliskan temuannya, guru yang lain akan mengetahui hasil penelitian guru yang
lain.

Fungsi lainnya adalah sebagai fungsi ekpresif dan fungsi instrumental. Fungsi
ekspresif adalah  seseorang dapat menuangkan berbagai gagasan tertulis  yang
dikomunikasikan kepada pihak lain.  Menulis berdasarkan fungsi ini adalah usaha pemenuhan
kebutuhan diri  seseorang sebagai ilmuwan atau sebagai manusia yang berpikir. Sementara
itu, fungsi instrumental adalah bahwa menulis menjadi media bagi seseorang untuk meraih
tujuan-tujuan lainnya.

Apabila kita bersepakat bahwa menulis itu berkomunikasi dengan orang lain, maka
akan didapati fungsi menulis sebagaimana fungsi komunikasi, yakni:

1.  Fungsi sosial. Menulis akan menentukan citra diri dan eksistensi diri para penulis secara
sosial. Bagi kalangan akademik, kemampuan menulis merupakan kebanggaan, karena
mereka menyadari bahwa menulis merupakan keterampilan tingkat tinggi yang tidak
dimiliki setiap orang. Dengan kemampuan menulis, orang akan mendapatkan posisi-posisi sosial yang sebelumnya tidak diperoleh. Popularitas dan legalitas sosial merupakan
hal yang secara nyata bersignifikan dengan kebiasaan menulis seseorang.

2.  Fungsi ekspresi. Menulis diyakini sebagai media untuk mengekspresikan pikiran, ide,
gagasan, imajinasi si penulis. Melalui tulisan, para penulis bisa menyampaikan keinginan,
penyesalan, kegalauan, angan-angan, ambisi, pendapat, bahkan cita-cita hidupnya.

Melalui tulisan pula seseorang bisa mengetahui pikiran dan perasaan orang lain.
3.  Fungsi Ritual. Mungkin saja dengan menulis  dan membacakannya kegiatan ritual
disampaikan. Melalui tulisan orang menyampaikan bela sungkawa. Melalui tulisan pula
orang menyampaikan doa dan ucapan selamat. Tulisan mungkin saja telah menyebabkan
orang yang stress dan prustasi menjadi semangat dan optimis. Menulis ternyata bisa
berfungsi ritual dalam konteks ini.

4.  Fungsi instrumental. Menulis juga bisa menjadi alat untuk mengubah sesuatu (informas i,
sikap, pendapat, pandangan) seseorang terhadap sesuatu. Seseorang yang semula
berpandangan picik terhadap reformasi mahasiswa, mungkin saja berubah ketika
membaca sebuah tulisan tentang reformasi. Seseorang yang memiliki sikap jahat mungkin
saja sadar akan perbuatannya setelah membaca sebuah buku keagamaan.  Inilah yang
dimaksud dengan fungsi intrumental menulis.

Sekaitan masalah kinerja guru dalam hal karya ilmiah, Soehardjono (2006)
menemukan dua masalah pokok yang dihadapi para guru, yakni pertama,  Pengumpulan
angka kredit untuk memenuhi persyaratan kenaikan dari golongan IIIa sampai dengan
golongan IVa, relatif mudah diperoleh. Hal ini karena, pada jenjang tersebut, angka kredit
dikumpulkan hanya dari tiga macam bidang kegiatan guru, yakni (1) pendidikan, (2) proses
pembelajaran, dan (3) penunjang proses pembelajaran.  Sementara itu,  angka kredit dari
bidang pengembangan profesi, belum merupakan persyaratan wajib.    Akibat dari
―longgarnya‖ proses kenaikan pangkat dari golongan IIIa ke IVa tersebut, tuju an untuk dapat
memberikan penghargaan secara lebih adil dan lebih profesional terhadap peningkatan karir,
kurang dapat dicapai secara optimal. Longgarnya seleksi peningkatan karir menyulitkan
untuk membedakan antara mereka yang berpretasi dan kurang atau t idak berprestasi.
Permasalahan kedua, persyaratan kenaikan dari golongan IVa ke atas relatif sangat
sulit. Permasalahannya terjadi, karena untuk kenaikan pangkat golongan IVa ke atas
diwajibkan adanya pengumpulan angka kredit dari unsur Kegiatan Pengembangan Profesi.
Angka kredit kegiatan pengembangan profesi  –berdasar aturan yang berlaku saat ini—dapat
dikumpulkan dari kegiatan: 1, 2, 3, 4, 5: menyusun Karya Tulis Ilmiah (KTI), menemukan
Teknologi Tepat Guna, membuat alat peraga/bimbingan, menciptakan kar ya seni dan
mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum. Sementara itu, tidak sedikit guru dan
pengawas yang ―merasa‖ kurang mampu melaksanakan kegiatan pengembangan profesinya
sehingga menjadikan mereka enggan, tidak mau, dan bahkan apatis terhadap pengusulan
kenaikan golongannya. Terlebih lagi dengan adanya fakta bahwa (a) banyaknya KTI yang
diajukan dikembalikan karena salah atau belum dapat dinilai, (b) kenaikan
pangkat/golongannya belum memberikan peningkatkan kesejahteraan yang signifikannya, (c)
proses  kenaikan pangkat sebelumnya  –  dari golongan IIIa ke IVa yang ―relatif lancar‖,
menjadikan ―kesulitan‖ memperoleh angka kredit dari kegiatan pengembangan profesi,
sebagai ―hambatan yang merisaukan‖.

Dengan demikian, terlepas dari berbagai masalah yang dialami para guru, menyusun
KTI masih merupakan instrumen untuk meningkatkan karir dan kepangkatan para guru.
Dibandingkan dengan kompetensi lain yang bersifat ―produk‖, maka KTI relatif dapat
dikerjakan mengingat para guru sudah memiliki sejumlah persoalan yang dihadapi setiap hari
dalam ruang kelas. Persoalan lanjutan adalah bagaimana agar para guru terbiasa menyusun
masalah tersebut dalam sebuah laporan penelitian

0 komentar:

Berlanggan artikel via email

Entri Populer

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites